Tim Reactics Brahmanada berhasil meraih Top 8 Global Performance dan Top 1 Asia pada ajang AIChE Chem-E-Car Final Competition 2025 yang diselenggarakan di Boston, Massachusetts, Amerika Serikat. Tim Reactics Chem-E-Car UGM ini dipimpin oleh Rafa Haidar Wicaksana (Departemen Teknik Mesin dan Industri) dengan lima anggota, yaitu Ikhlasul Amal Abda’i (Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika), Akmal Argiyanto Pratama (Departemen Teknik Kimia), Ariyo Favian Tamim (Departemen Teknik Mesin dan Industri), dan Bintang Ramadhan (Departemen Teknik Kimia) yang berkolaborasi dalam merancang dan mengembangkan mobil bertenaga reaksi kimia secara inovatif.
Kompetisi AIChE Chem-E-Car Final Competition 2025 yang diikuti oleh tim Reactics Brahmanada merupakan ajang berskala dunia yang mempertemukan tim-tim terbaik dari berbagai negara. Tahun ini, tim Reactics Brahmanada menjadi perwakilan Indonesia setelah berhasil lolos seleksi di tingkat nasional.

“Kompetisi ini menjadi kompetisi terakhir tim Brahmanada di Reactics. Hasil yang kami raih dalam kompetisi ini menjadi penutup yang berkesan atas perjalanan panjang kami selama berproses di Reactics,” ucap Rafa Haidar selaku ketua tim Brahmanada.
Perjalanan tim dari Indonesia menuju Amerika Serikat untuk mengikuti kompetisi AIChE Chem-E-Car Competition Finals 2025 memakan waktu hampir tiga hari penuh atau sekitar 68 jam. Perjalanan panjang lintas benua ini ditempuh menggunakan kereta api dan penerbangan jarak jauh. Selama perjalanan, tantangan muncul akibat getaran terus-menerus di dalam pesawat dan kereta yang berpotensi mengganggu kondisi prototipe mobil Chem-E-Car.
“Guncangan di kereta dan pesawatnya terasa lumayan kuat, kami sempat takut baut atau komponen mekanik di mobilnya jadi longgar,” ujar Bintang, salah satu anggota tim. Selanjutnya ia menambahkan dengan nada lega bahwa untungnya tim sudah melakukan berbagai langkah antisipasi sebelum keberangkatan, mulai dari penguatan struktur, pelapisan ulang sambungan, hingga pengecekan detail sistem untuk memastikan mobil tetap aman selama perjalanan. Berkat persiapan yang matang, prototipe Chem-E-Car berhasil tiba di lokasi kompetisi dalam kondisi optimal dan siap bersaing di ajang internasional tersebut.

“Selama mengikuti kompetisi di Boston, kami menghadapi berbagai tantangan, terutama karena perbedaan kondisi lingkungan antara Indonesia dan Amerika Serikat. Suhu di Boston yang jauh lebih rendah membuat kami harus menyesuaikan performa mobil, karena sistem berbasis gas bertekanan yang kami gunakan sangat sensitif terhadap perubahan temperatur. Selain itu, perbedaan waktu juga menjadi tantangan tersendiri, karena tubuh kami membutuhkan waktu untuk menyesuaikan ritme istirahat di tengah jadwal kompetisi yang padat. Persaingan yang ketat dengan banyaknya tim dari berbagai negara pun membuat tekanan semakin besar, tetapi justru hal itu yang memacu kami untuk memberikan yang terbaik. Semua tantangan ini menjadi pengalaman berharga bagi kami untuk terus belajar dan berkembang,” ungkap Ikhlas.
Vian menuturkan bahwa keikutsertaannya dalam AIChE Chem-E Car Competition di Boston, USA menjadi pengalaman berharga yang memperluas wawasannya dan tim. “Kami bangga mewakili Indonesia di ajang bergengsi yang mempertemukan tim-tim terbaik dunia. Melalui kompetisi ini, kami belajar tentang standar keselamatan, presentasi ilmiah, serta inovasi pembuatan chem-e-car. Pengalaman ini bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga tentang kolaborasi, semangat inovasi, dan tekad,” ungkap Vian.

Pencapaian yang diraih oleh tim Brahmanada tidak luput dari dukungan seluruh tim Reactics Chem-E-Car UGM, para dosen pembimbing dan para mitra sponsor, yaitu PT VALE Indonesia Tbk., PT Gagas Energi Indonesia, PT Nissan Motor Indonesia, dan PT Pupuk Kalimantan Timur.
“Kami menitipkan mimpi dan harapan kami kepada generasi selanjutnya, kepada para junior yang akan melanjutkan perjalanan ini. Kami percaya semangat yang kami bawa dalam kompetisi AIChE akan tumbuh lebih besar di tangan mereka. Harapan kami sederhana, tetapi sangatlah bermakna, agar generasi berikutnya dapat terus menyalakan semangat, menghapus keraguan, dan menyempurnakan setiap langkah yang telah kami mulai. Semoga suatu hari nanti, trofi AIChE dapat dibawa pulang ke Indonesia, ke almamater tercinta, Universitas Gadjah Mada,” tutur Akmal.