Tim debat Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menorehkan prestasi di kancah internasional melalui ajang Hanoi Asian British Parliamentary (ABP) 2026 yang diselenggarakan di Hoang Mai Star School, Hanoi, Vietnam. Kompetisi yang mempertemukan tim-tim debat dari berbagai negara di Asia ini merupakan salah satu ajang debat British Parliamentary terbesar di kawasan Asia dan pada penyelenggaraan tahun 2026 mencatatkan jumlah peserta terbanyak sepanjang sejarahnya, dengan melibatkan 110 tim dari Cina, India, Hong Kong, Indonesia, Malaysia, Vietnam, Filipina, serta sejumlah negara Asia lainnya.
Kompetisi yang memperdebatkan beragam isu, mulai dari politik domestik, ekonomi, hingga hubungan internasional, kontingen UGM berhasil meraih prestasi sebagai 3rd EFL Breaking Team dan melaju hingga babak EFL Semifinalist dengan delegasi Yehezkiel Vito dari FISIPOL dan Komang Ayu Azka Pramesti Mahiswari Matsuzawa dari FISIPOL. Capaian tersebut sekaligus menjadikan UGM sebagai satu-satunya tim dari kontingen Indonesia yang berhasil menembus babak eliminasi serta meraih pencapaian tertinggi setelah 2 tahun gagal untuk melaju ke babak eliminasi (outrounds). Kemudian, raihan didapatkan kembali melalui tim UGM tahun ini dalam ajang Hanoi ABP 2026.
Keberhasilan tersebut menjadi capaian yang membanggakan, terlebih mengingat ketatnya persaingan dalam kompetisi yang diikuti oleh 110 tim dari berbagai negara di Asia. Dalam format British Parliamentary, setiap peserta dituntut untuk mampu membangun argumentasi secara cepat, merespons perkembangan debat secara strategis, serta menyesuaikan pendekatan dengan berbagai karakter dan gaya debat lawan. Oleh karena itu, kesiapan tim menjadi salah satu aspek penting dalam menghadapi kompetisi dengan tingkat persaingan yang tinggi. Persiapan menuju kompetisi dilakukan selama kurang lebih satu bulan melalui pendampingan intensif dari para pelatih (coach) yang merupakan senior dan alumni Gadjah Mada Debating Society (GMDS). Selama masa persiapan tersebut, latihan difokuskan pada penguatan kemampuan dasar debat, meliputi penyusunan argumentasi, struktur pidato, serta kemampuan menyampaikan gagasan secara efektif dalam waktu yang terbatas.
Tim secara rutin melakukan sparring untuk membangun debating instinct selain melakukan latihan secara teknis, sekaligus membiasakan diri menghadapi berbagai tipe lawan. Metode ini menjadi penting dalam mempersiapkan tim menghadapi kompetisi internasional yang mempertemukan peserta dengan latar belakang dan gaya debat yang beragam. Sebagai upaya untuk semakin memperkuat kesiapan sebelum keberangkatan, tim juga mengikuti sejumlah kompetisi debat internasional secara daring. Proses persiapan tersebut tidak hanya berfokus pada penguasaan materi, tetapi juga pada kemampuan untuk beradaptasi dengan isu dan dinamika debat secara cepat. Berbagai mosi yang dihadapi dalam kompetisi mencakup isu politik domestik berbagai negara, ekonomi, hubungan internasional, serta isu-isu kontemporer lainnya yang menuntut peserta untuk memiliki wawasan luas dan kemampuan analisis yang kuat.
Capaian tim UGM dalam Hanoi ABP 2026 tidak terlepas dari dukungan para senior dan alumni GMDS yang turut memberikan pendampingan selama proses persiapan. Kehadiran para coach yang memiliki pengalaman dalam kompetisi debat menjadi salah satu faktor penting dalam membantu tim mempertajam kemampuan serta mempersiapkan strategi menghadapi kompetisi internasional. Selain itu, tim juga menyampaikan apresiasi kepada Direktorat Kemahasiswaan UGM (Ditmawa UGM) atas dukungan pendanaan yang diberikan sehingga tim dapat berpartisipasi secara langsung dalam kompetisi di Hanoi, Vietnam. Dukungan tersebut memungkinkan tim untuk mengikuti ajang internasional ini dan membawa nama UGM serta Indonesia dalam salah satu kompetisi debat British Parliamentary terbesar di Asia.
Keikutsertaan dan capaian UGM dalam Hanoi ABP 2026 menjadi bagian dari upaya mahasiswa untuk terus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menyampaikan gagasan secara sistematis, serta berkompetisi dalam forum internasional. Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa UGM lainnya, khususnya anggota GMDS, untuk terus mengembangkan kemampuan debat dan berani membawa nama UGM ke kompetisi-kompetisi internasional di masa mendatang. Melalui capaian sebagai 3rd EFL Breaking Team dan EFL Semifinalist, tim UGM juga berharap pengalaman yang diperoleh dalam kompetisi ini dapat menjadi bekal bagi generasi berikutnya untuk mempersiapkan diri dengan lebih matang, memperluas pengalaman kompetisi internasional, serta terus meningkatkan kualitas debat UGM di tingkat Asia maupun global.