
Program internasionalisasi menjadi fokus utama Subdirektorat Kreativitas Mahasiswa (Subdit Krema) Direktorat Kemahasiswaan UGM tahun ini. Komitmen tersebut tercermin dalam rencana program kerja yang telah disusun untuk satu tahun ke depan. Untuk menyukseskan program tersebut, Subdit Krema menggelar acara “Sosialisasi Inspirasi Youth Leader dan Internasionalisasi Kreativitas Mahasiswa”, Selasa (7/2), siang.
“Ini adalah langkah besar yang kita lakukan tahun ini. Tahun lalu kita sudah membuktikan bahwa kita hebat di nasional dan sekarang sudah saatnya kita membidik level yang lebih tinggi,” tutur Ahmad Agus Setiawan, S.T., M.Sc., Ph.D., Kasubdit Krema. Ia menyebut bahwa acara tersebut diselenggarakan agar program internasionalisasi tersiar luas di kalangan mahasiswa UGM.
“Kami telah menyusun standard operating procedure bagi mahasiswa yang ingin berkompetisi di tingkat nasional maupun internasional. Harapan kami para mahasiswa mengetahui informasi ini dan memanfaatkan sebaik-baiknya agar dapat terfasilitasi,” lanjut Agus.

Dalam acara yang diselenggarakan di ruang seminar Perpustakaan Pusat UGM lantai 2 tersebut, empat narasumber dihadirkan. Keempat narasumber itu adalah: M. Nabil Satria F. (peraih juara 1 Food Innovation Challenge), Andreas Gandhi H.P. (juara I Ideaction Challenge Asia Pasific), Brio Elpranata (Juara 3 Nielsen Challenge Competition), dan Nayli Dahiya F. (Top 30 Unilever Future Leaders League). Keempat narasumber tersebut menyampaikan pengalamannya saat jatuh bangun dalam menggapai prestasi baik di tingkat nasional maupun internasional.
Salah satu narasumber, Nabil Satria, menjelaskan tips-tips agar dapat berprestasi di tingkat Internasional. “Pertama, harus punya paspor, karena paspor ini yang paling nggak bisa cepat, normalnya hampir seminggu. Kepakek nggak kepakek insyaallah kepakek. Misalnya nih, ada info dan deadline lusa, jadi kita sudah siap” jelas Nabil.
Selanjutnya adalah kemampuan berbahasa Inggris. Menurutnya, TOEFL sama dengan paspor, tidak bisa mendadak. Selain itu, mayoritas lomba-lomba di tingkat internasional mensyaratkan kemampuan bahasa Inggris yang dibuktikan dengan skor TOEFL atau IELTS.
“Yang ketiga adalah mau mencoba. Kalau misalnya kita gagal, kita sudah tau caranya meminta recommendation letter kepada dosen dan bagaimana menulis esai. Semakin kita sering mencoba, maka peluang untuk berhasil semakin banyak,” pungkas Nabil.